Harga Cabai Turun Hingga 25 Persen
Ahad, 18 Juli 2010, 15:58 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,BEKASI -- Harga cabai di pasar Induk Cibitung, Kabupaten Bekasi turun. Menyusul meningkatnya pasokan ke pasar ini.
"Harga cabai sekarang sudah mulai turun pasokan cabai pun sepertinya akan normal kembali" kata pedagang cabai di Pasar Induk Cibitung, Beje (41), Ahad (18/7). Menurutnya harga satu kilo cabai rawit menjadi RP 20 ribu sebelumnya RP 25 ribu. Cabai merah kriting turun dari RP 40 ribu menjadi RP 30 ribu per kilo. Sedangkan harga cabai hijau besar per kilo RP 11 ribu.
Menurut perhitungan pedagang menjelang bulan Ramadhan nanti harga cabai akan mulai stabil kembali. Penjual makanan pecel lele di Pekayon, Kota Bekasi, Suningsih (32) mengaku terpaksa berbelanja cabai ke pasar induk Cibitung. Sebab harga cabai di pasar itu sudah mulai turun.
Sementara itu Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan Ardiansyah Parman saat ditemui di acara peringatan Hari Pasar Bersih Nasional ke-3 di pasar induk Cibitung mengatakan para pedagang dan pembeli tidak perlu panik dengan kenaikan harga cabai.
Menurutnya dari kementrian pertanian menyampaikan bahwa petani cabai sudah mulai panen. Sehingga suplai cabai akan banyak dan harga akan turun. Pada akhir Juli hingga Agustus nanti para petani cabai akan melaksanakan panen.
"Saya rasa di daerah lain tidak sesibuk di Jabodetabek terkait kenaikan harga cabai" ujarnya kepada wartawan disela mengunjungi pedagang pasar induk Cibitung. Ardiansyah juga menjamin bahwa harga cabai tidak akan naik menjelang dan saat memasuki bulan Ramadhan. "Masyarakat tidak perlu khawatir" ujarnya.
Seperti yang kita ketahui, harga sembako terutama cabai akhir-akhir ini mengalami kenaikan harga yang membuat masyarakat terutama golongan kecil meringis. Bagaimana tidak, harga satu kilo cabai rawit yang biasanya berkisar antara Rp 10.000, cabai merah keriting Rp 15.000 dan cabai hijau besar Rp 12.000. Harga tesebut kini menjadi cabai merah keriting Rp 40.000, cabai rawit Rp 30.000 dan cabai hijau Rp 25.000
Kenaikan harga cabai disebabkan karena produksi cabai yang berkurang. Panen cabai kali ini banyak mengalami kegagalan hal ini dikarenakan faktor cuaca. Curah hujan yang tinggi bisa menyebabkan kerusakan bunga tanaman cabai dan tanaman cabai menjadi busuk. Menurut Dekan Pertanian Universitas Muhammdiyah Yogyakarta (UMY), Ir. Agus Nugroho Setiawan, MP Terkait dengan sistem budidaya yang dilakukan petani cabai, “kebanyakan petani berani mengambil risiko untuk mendapatkan produksi cabai yang tinggi. Petani seringkali menanam cabai lagi setelah panen dengan maksud agar segera memperoleh hasil panen yang tinggi. Namun hal tersebut dapat menyebabkan siklus organisme pengganggu tanaman misalnya hama tanaman tidak berhenti. Siklus hama yang tidak berhenti dapat mempercepat kerusakan tanaman belum lagi curah hujan yang masih tinggi selain merusak bunga tanaman,”paparnya.
Untuk mengatasi kelangkaan serta kenaikan harga menjelang bulan Ramadhan, maka pasokan cabai harus meningkat. Agar panen cabai tidak gagal seperti saat ini, maka dapat dilakukan beberapa cara pencegahannya, antara lain:
1. Untuk mengantisipasi pola iklim yang sulit ditebak tetapi tetap memproduksi cabai tinggi, petani bisa melakukan pola tanam out system atau di luar masa tanam di bawah naungan. Maksudnya dibawah naungan yaitu dengan menyediakan atap pada lahan tanaman cabai misalnya dengan menggunakan atap plastik. Sehingga tanaman tidak akan busuk walaupun curah hujan sedang tinggi.
2. Agar siklus bakteri pengganggu tanaman terputus petani diharapkan tidak langsung menanami kembali setelah masa panen. Hal ini untuk memberi masa atau jeda agar hama tanaman tidak terus berkembang. Atau jika tetap menginginkan untuk menanam bisa dilakukan dengan sewa lahan agar lebih aman. Setelah panen kemudian petani menyewa lahan lainnya.
Analisa:
Jika langkah-langkah tersebut diterapkan atau tidak terjadi kelangkaan pada tanaman cabai, maka menjelang bulan Ramadhan harga cabai diharapkan dapat kembali stabil. Hal ini dikarenakan jumlah pasokan meningkat. Hal ini dapat dilihat pada kurva dibawah berikut.

Jika pasokan (supply) meningkat serta permintaan (demand) juga meningkat, maka harga akan naik. Demand pada saat bulan ramadhan dan menjelang hari raya akan meningkat, namun jika diimbangi dengan pasokan barang yang juga meningkat maka diharapkan harga barang tersebut tidak terlalu mahal ataupun stabil.
· http://www.umy.ac.id/gagal-panen-picu-kenaikan-harga-cabai.html
1 komentar:
Jakarta, Aktual.com – Setelah harga daging sapi melonjak tinggi dan hilang di pasaran, kini harga cabai rawit naik tinggi dalam beberapa hari ini.
Direktur Komersial Perum Bulog, Fajri Santosa, harga cabai rawit saat ini terjadi kenaikan yang cukup tinggi mencapai Rp 70.000/kg, sehingga untuk menekan harga maka Bulog melakukan operasi pasar, salah satunya di Pasar Induk Kramat jati, Jakarta Timur, Sabtu (15/8).
Setelah Daging Sapi, Kini Harga Cabai Rawit Naik Tinggi
Posting Komentar